Tuesday, May 7, 2013
7 Mei 2013. Menggali Sumur-sumur Yang Sudah Terkubur.
7 Mei 2013.
Menggali Sumur-sumur Yang Sudah Terkubur.
Kemudian Ishak menggali kembali sumur-sumur yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, dan yang telah ditutup oleh Filistin sesudah Abraham mati; disebutkannyalah nama sumur-sumur itu menurut nama-nama yang telah diberikan oleh ayahnya.
(Kejadian 26:18)
Ishak menggali sumur-sumur Abraham yang sudah ditimbun musuh. Ini sebuah pernyataan yang kuat sebab masa lampau memiliki kekayaan yang luar biasa, yang seringkali terkubur oleh jaman. Apa yang hari ini orang katakan sebagai kolot, kuno dan tidak modern, seringkali itulah kebenaran yang Tuhan gaungkan berabad yang lalu, tapi kemudian dikubur oleh jaman.
Saat anda duduk membaca firman-Nya dengan hati, di situlah saat saudara menggali sumur-sumur kebenaran itu. Saat saudara dibawa RohNya mengalami banyak perjalanan iman, disitulah tempat sumur-sumur itu berbual airnya, jangan remehkan dan abaikan kekayaan sumur-sumur itu. Justru bersikaplah bijaksana seperti Ishak.
(Disalin dari Renungan Harian "Dari Hati Sang Raja" oleh Pdt. Petrus Agung Purnomo)
6 Mei 2013. Kita Belajar.
6 Mei 2013.
Kita belajar.
Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.
(Matius 11:29-30)
Tiap saat kita menghadapi apa pun, baik saat di atas maupun di bawah, itulah saat kita belajar. Saat Tuhan seperti "terlambat" dalam menolong, kita belajar. Saat doa kita seperti tak terjawab, kita belajar. Saat semua orang menjauh dari kita, kitapun belajar. Saat kita sulit mengerti dan dimengerti orang, itupun membuat kita belajar. Ya saat belajar yang terbaik adalah saat kita gagal dan di bawah. Kita bahkan boleh menangis dan meratap, tapi tetap kita belajar. Saat hati nyeripun, mari kita belajar. Jangan lupa, bukankah Yesus berkata: Belajarlah dari padaKu...jangan sia-siakan setiap kesempatan untuk belajar.
Situasi apa pun adalah guru-guru yang baik untuk belajar. Karena itu mari kita belajar.
(Disalin dari Renungan Harian "Dari Hati Sang Raja" oleh Pdt. Petrus Agung Purnomo)
Sunday, May 5, 2013
5 Mei 2013. Stigmata.
5 Meu 2013.
Stigmata.
Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.
(Galatia 6:17)
Bagi Paulus, luka di tubuhnya akibat aniaya karena imannya adalah tanda atau stigmata bahwa dia adalah milik Kristus.
Penderitaan yang sampai menghasilkan cacat jasmani tidak disikapi dengan ratapan. Tidak juga dengan kepahitan. Tapi tiap goresan luka di tubuhnya penuh dengan cerita dan kesaksian tentang Tuhannya. Baginya luka dan cacat itu bukan aib, tapi medali. Bukan sesuatu yang harus ditutupi, tapi justru kebanggaan di hadapan Tuhannya.
Betapa bedanya dengan kita. Sungguh kita terlalu sering bereaksi begitu cengeng dan manja, padahal penderitaan kita karena iman kita tidaklah sebanding dengan rasul besar tersebut.
Saudara, adakah stigmata di hidup kita? Mungkin cuma goresan kecil yang nyaris terlihat. Karena itu, mari tegar saat melewati lembah duka. Supaya kelak bisa bersorak dalam suka.
(Disalin dari Renungan Harian "Dari Hati Sang Raja" oleh Pdt. Petrus Agung Purnomo)
4 Mei 2013. Tujuan Hidup.
4 Mei 2013
Tujuan Hidup
Sebab aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN.
(Yeremia 29:11a)
Waktu Yohanes dan Andreas berjalan mengikuti Yesus, Tuhan menoleh dan bertanya: apakah yang kamu cari? Ini adalah pertanyaan yang sangat penting, dan pertanyaan yang sama Dia tunjukkan kepada kita semua.
Dalam kenyataan setiap orang akan mempunyai jawaban yang berbeda. Lalu apa jawaban saudara secara pribadi? Apa yang saudara cari dalam kepentinganmu dengan Yesus? Sebagian akan menjawab dengan tujuan-tujuan yang tak terlalu jauh, seperti melunasi hutang, hidup sukses, bahagia dsb. Ada yang mungkin ingin terkenal atau menjadi pengendali di bidang tertentu.
Ya tiap kita memang punya hak untuk menjawab sesuai dengan yang kita ingini, tapi perlu diingat bahwa ini tidak hanya melibatkan keinginan saudara dan saya semata. Tetapi juga ada keinginan Tuhan dan perasaan-Nya juga. Tuhan punya cita-cita atas hidup anak-anak-Nya. Dan betapa Dia ingin cita-cita-Nya itu sama dengan tujuan hidup kita. Lalu bagaimana kalau ternyata berbeda? Yach mungkin akan seperti kehancuran hati seorang ayah yang sedang membangun pabrik ban bagi anaknya, sementara si anak merengek dan memaksa supaya bisa jadi tukang tambal ban...sedih ya....
(Disalin dari Renungan Harian "Dari Hati Sang Raja" oleh Pdt. Petrus Agung Purnomo)
Thursday, May 2, 2013
3 Mei 2013. Hidup yang Berarti.
3 Mei 2013.
Hidup yang Berarti
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
(Matius 5:5)
Banyak orang miskin, tapi jangan pakai telunjuk kita untuk menyalahkan, ulurkan tangan bagi mereka, maka hidup kita akan berarti. Banyak orang bodoh, mereka sudah kenyang cemooh, butuh kita untuk sentuh dan didik mereka. Banyak orang sakit, ah...jangan berteori tentang bakteri, nanti keburu mati. Banyak orang salah dan berdosa, jangan hakimi mereka dengan wajah hati yang begitu bengis, bawa saja kepada Yesus yang pengasih. Banyak orang yang melanggar, haruskah kita yang menghajar sambil berteriak kurang ajar?
Saudara, hidup ini seringkali harus memilih. Jadi hakim yang lalim atau hamba kebenaran yang lembut. Pilihan pertama seakan membuat kita kuat, karena seseorang selalu kita dudukan di kursi terdakwa. Tapi sadarkah saudara bahwa suatu kali kelak kita bisa didudukan orang yang sama? Tapi kalau kita memilih jadi yang ke 2,maka hidup kita sungguh akan berarti.
Hidup cuma sekali setelah itu mati, pilihlah jadi yang penuh arti. Amin.
(Disalin dari Renungan Harian "Dari Hati Sang Raja" oleh Pdt. Petrus Agung Purnomo)
Hidup yang Berarti
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
(Matius 5:5)
Banyak orang miskin, tapi jangan pakai telunjuk kita untuk menyalahkan, ulurkan tangan bagi mereka, maka hidup kita akan berarti. Banyak orang bodoh, mereka sudah kenyang cemooh, butuh kita untuk sentuh dan didik mereka. Banyak orang sakit, ah...jangan berteori tentang bakteri, nanti keburu mati. Banyak orang salah dan berdosa, jangan hakimi mereka dengan wajah hati yang begitu bengis, bawa saja kepada Yesus yang pengasih. Banyak orang yang melanggar, haruskah kita yang menghajar sambil berteriak kurang ajar?
Saudara, hidup ini seringkali harus memilih. Jadi hakim yang lalim atau hamba kebenaran yang lembut. Pilihan pertama seakan membuat kita kuat, karena seseorang selalu kita dudukan di kursi terdakwa. Tapi sadarkah saudara bahwa suatu kali kelak kita bisa didudukan orang yang sama? Tapi kalau kita memilih jadi yang ke 2,maka hidup kita sungguh akan berarti.
Hidup cuma sekali setelah itu mati, pilihlah jadi yang penuh arti. Amin.
(Disalin dari Renungan Harian "Dari Hati Sang Raja" oleh Pdt. Petrus Agung Purnomo)
2 Mei 2013. Hati yang Hidup.
2 Mei 2013.
Hati yang Hidup
"Biarlah hatimu hidup untuk selama-lamanya..."
(Mazmur 22:27)
Ya, ternyata tidak semua yang bernyawa mempunyai hati yang hidup. Ada banyak orang yang masih bernyawa, masih penuh dengan aktivitas hidup, sehat secara jasmani, tapi hatinya mati. Tidak bisa lagi tersentuh dengan penderitaan orang lain, tidak peduli dengan siapa pun, tidak ada yang bisa dialirkan dari dalam hatinya. Juga tidak kenal yang namanya belas kasihan, yang dia cari hanyalah keuntungan. Tidak ada lagi pelayanan, yang tercecer hanyalah kegiatan. Tak lagi punya gairah dengan Tuhan, cuman keagamawian yang masih tersisa. Itulah orang yang masih bernyawa tapi hatinya tidak hidup. Betapa mengerikanya hidup yang seperti ini. Padahal segala sesuatu dalam hidup manusia, terpancarnya dari hatinya. Kalau yang di dalamnya mati maka 'kematianlah' yang disebarkan. Sehingga apa pun yang disentuh menjadi mati.
Saudara, mintalah supaya hatimu selalu hidup. Sebab segalanya diawali dan ditentukan dengan yang di hatimu.
Renungkanlah....
(Disalin dari Renungan Harian "Dari Hati Sang Raja" oleh Pdt. Petrus Agung Purnomo)
1 Mei 2013. Kehendak Tuhan.
1 Mei 2013.
Kehendak Tuhan.
"Mengucap syukurlah di segala hal,sebab itulah yang dikehendaki Allah bagi Mu" (1Tesalonika 15:8)
--Tdk ada manusia di atas bumi ini yang tidak pernah mengalami padang gurun. Kalau ucapan syukur hanya diberikan saat di tanah perjanjian saja, kita nggak ada bedanya dengan bangsa Israel yang dibawa Tuhan keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian. Selama 40 tahun berputar-putar di padang gurun,tak terhitung mujizat yang Tuhan kerjakan dalam hidup mereka:
Laut Merah terbelah 2, air keluar dari batu menjadi kolam air, manna turun dari surga, burung puyuh didatangkan menjadi makanan mereka, tiang awan & tiang api selalu memayungi langkah-langkah mereka di padang gurun. Begitu banyak perbuatan Tuhan yang besar menyertai bangsa Israel sampai-sampai pakaian & kasut mereka tidak menjadi rusak sama sekali. Sungguh mujizat luar biasa.
Beberapa waktu lalu dalam acara keluarga seorang ponakan bersuara emas menyanyi pujian."It is well with my soul" Semua yang hadir terharu mendengarnya. banyk yang meneteskan air mata. Bagaimana tidak? Beberapa bulan yang lalu, akhir Januari awal Maret 2011. Gadis kecil ini terbaring di ICU selama 1,5 bulan, penyakit Encephalitis yang tiba-tiba menyerang otaknya. Dari seorang anak kecil yang pintar, lincah, bersuara emas (sering menang lomba nyanyi), mendadak tidak berdaya di ICU dengan selang infus disekujur tubuhnya. Bernafas pun dengan alat bantu. Dokter berpendapat sudah tidak ada harapan, kalaupun bisa sadar, maka resikonya cacat mental. Keluar dari ICU, harus menjalani perawatan selama 2 bulan. 2 bulan, belajar bernafas, makan, duduk, bicara & berjalan. Belajar mengenali orang-orang. Yang mengasihinya. Kondisi otaknya benar-benar seperti baru di ctrl-alt-del.
Tuhan Maha Besar, 11 Juni 2011, bisa mendengar gadis kecil ini menyanyi "it is well.... it is well... with my soul'. Suaranya masih bening & indah seperti dulu, yang mengherankan, ia hafal lirik lagu pujian ini dari awal sampai akhir.
--Masih panjang & berat pemulihan tubuhnya, tapi gadis kecil ini berkata, "it is well, it is well with my soul." Sebuah makna ucapan syukur yang amat sangat dalam, karena menyanyi lagu pujian dari tengah padang pasir.
(Disalin dari Renungan Harian "Dari Hati Sang Raja" oleh Pdt. Petrus Agung Purnomo)
Subscribe to:
Posts (Atom)