Tuesday, April 30, 2013

30 April 2013. Melekat.


30 April 2013.
Melekat.

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
(Yohanes 15:5)

Yesus berkata bahwa Dia adalah pokok dan kita carang-carang-Nya. Coba renungkan, apa yang carang-carang itu harus upayakan supaya menghasilkan buah? Paraktis tidak ada bukan. Dia tidak berbuat apapun. Yang dilakukan hanyalah melekat pada pokok atau batang. Carang itu cukup hanya melekat dan segala sesuatunya dialirkan dalam dirinya.

Maka demikian juga dengan kita. Bagian kita adalah tetap melekat pada Yesus. Dan biarkan Tuhan mangaliri kita dengan anugerha-Nya. Itulah yang namanya hidup dalam penyerahan total.

Kita sudah mencoba banyak hal. Kita telah berupaya dengan segala upaya. Tapi pernakah mencoba untuk menyerah?

Cobalah...melekatlah...dan kecaplah aliran berkat-Nya.amin

(Disalin dari Renungan Harian "Dari Hati Sang Raja" oleh Pdt. Petrus Agung Purnomo)

29 April 2013. Mengajar dan Berbuat Baik.


29 April 2013.
Mengajar dan Berbuat Baik.

Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.
(Lukas 22:26)

Hari-hari ini banyak orang sedang mengkampanyekan dirinya supaya terpilih jadi pemimpin rakyat. Semua mengobral janji dan program. Sebagian hasil pemikiran yang matang. Sebagian lagi asal menarik dan laku dijual.

Sebenarnya kalau kita mengikuti cara Tuhan Yesus, jauh lebih baik. Yesus mengajar dan berbuat baik dengan menyentuh hidup banyak orang. Itu yang terus-menerus dilakukannya tanpa henti, akhirnya orang yang memaksa-Nya jadi raja, walau ditolak-Nya.

Gereja jika meneladani ini akan hidup dalam harmoni yang ajaib. Tidak ada yang sekedar berdebat untuk idenya diterima, juga tidak ada black campaign yang menjelekkan sesama supaya kelihatan baik dan tidak ditinggalkan orang. Bukankah jika ingin jadi pemimpin kita harus jadi pelayan bagi semuanya?

Mari ajarkan dan sampaikan good news dan jangan jemu berbuat baik. Oke?

(Disalin dari Renungan Harian "Dari Hati Sang Raja" oleh Pdt. Petrus Agung Purnomo)

28 April 2013. Legowo.


28 April 2013.
Legowo


Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.
(Yohanes 16:7)

Kata itu memang dalam Bahasa Jawa, yang artinya rela dan iklas terhadap sesuatu. Biasanya dikonotasikan ketika seseorang harus melepaskan sesuatu. Di dalam kenyataannya, tidaklah begitu mudah. Banyak orang lebih suka menggenggam erat sesuatu yang telah dipegangnya. Tidak rela melepaskannya pada orang lain. Bahkan kalau perlu dia akan dipertahankan mati-matian.

Tapi tidak dengan Yesus. Dia bahkan berkata adalah lebih baik bagi kita kalau Dia terangkat ke surga dan Roh Kudus turun. Yesus "legowo" ketika Roh Kudus ambil alih tugas-Nya. Dia juga berkata kalau kita percaya kita akan lakukan bahkan lebih besar dari yang Dia lakukan. Yesus "legowo" waktu murid-Nya yang bisa melakukan yang lebih besar dari Dia.

Saudara, milikilah hati " legowo" seperti Yesus. Maka kita akan hidup dalam kelegaan...lego...

(Disalin dari Renungan Harian "Dari Hati Sang Raja" oleh Pdt. Petrus Agung Purnomo)

Retype By Elisha Erick

27 April 2013. Dipercaya dan Mempercayakan.


27 April 2013
Dipercaya dan Mempercayakan

Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.
(II timotius 2:2)

Hidup kita di dalam Kristus ternyata mengandung dua sisi dalam hal tanggung jawab yang Tuhan berikan, yaitu "dipercaya" dan "mempercayakan".

Orang yang tidak memiliki kedua-duanya adalah orang yang gagal mengemban hidupnya di hadapan Tuhan dan manusia. Bagaimana tidak? Orang yang dipercaya adalah orang yang dianggap memiliki integritas dan kemampuan, karena itulah orang lain percaya kepadanya.

Mereka yang dapat dipercaya mendapat penilaian positif dari Tuhan atau manusia. Sedangkan orang yang biasa mempercayakan sesuatu yang ada padanya pada orang lain adalah orang yang sedang memperbesar kapasitasnya.

Bayangkan kalau semua urusan hidupmu harus dikerjakan semua sendiri. Dari kerja, urusan dapur, les anak sekolah, sampai semua urusan pekerjaan tidak punya pegawai/ staff satupun. Apa yang terjadi? Kapasitasnya tidak bisa berkembang.

Jadi harus bagaimana? Jadilah orang yang dapat dipercayai dan temukan atau didik orang yang bisa menjadi kepercayaan. Disitu kita bisa dipercayai dan mempercayakan.

26 April 2013. Keluhan.


26 April 2013
Keluhan


Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Tuhan dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.
(Roma 8:26)

Keluhan bukan otomatis sebuah doa. Keluhan seringkali mengandung keletihan dan hilangnya harapan. Keluh kesah juga di dalamya seringkali ada mengasihani diri sendiri. Dan itu bukan nada yang indah melainkan nada sumbang di telinga Tuhan. Pada titik seperti itu, firman berkata keluh kesah kita bisa berubah menjadi pemberontakan di hadapan Tuhan.

Apakah manusia tidak boleh berkeluh kesah? Tentu saja boleh. Bahkan ada keluhan yang menggerakkan hati Tuhan untuk bertindak. Yaitu saat kita berbahasa roh, kita mengucapkan keluhan yang tidak bisa terucapkan atau terkatakan. Karena itu dari Roh Tuhan, otomatis akan menghasilkan reaksi Ilahi yang luar biasa.

Saudara yang kekasih, jika hati terasa berat, biarlah keluhanmu terucap lewat bahasa Roh-Nya saja.

Puji Tuhan.

(Disalin dari Renungan Harian "Dari Hati Sang Raja" oleh Pdt. Petrus Agung Purnomo)

Retype By Elisha Erick

25 April 2013. Okultisme.


25 April 2013
Okultisme

Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang bernama Iskariot, seorang dari kedua belas murid itu. (Lukas 22:3)

Biasanya dipakai untuk menyebut suatu kepercayaan yang menyembah roh-roh tertentu atau kuasa gelap, tetapi kata ocult sendiri artinya adalah sesuatu yang tersembunyi.

Artinya tanpa sadar, kalau hidup kita tidak memiliki ketulusan, akan membuat kita membuka diri terhadap pekerjaan si jahat. Tetapi kenyataannya itulah yang terjadi, bukan? Yudas yang gemar mencuri kepercayaan Tuhan, akhirnya kerasukan setan. Mari hidup dalam ketulusan.

Mari memiliki hati yang membuang semua kedengkian, mari hidup dalam damai dengan semua orang. Kita tidak harus setuju dengan semua orang, tetapi juga jangan jadikan itu celah untuk melakukan sesuatu yang tersembunyi.

Damai sejahtera bagi mereka yang berkenan kepada-Nya. Amin.

Renungan Harian dari Hati Sang Raja
Pdt. Petrus Agung Purnomo

Retype By Elisha Erick